Peran dan Tantangan Pendidikan Islam di Era Millenial

Shoimatun Niswah (14 Juni 2019)

Pendidikan adalah proses mempersiapkan masa depan anak didik dalam mencapai tujuan hidup secara efektif dan efisien. Pada dasarnya, Islam sebagai agama yang sempurna telah memberikan pijakan yang jelas tentang tujuan dan hakikat pendidikan, yakni memberdayakan potensi fitrah manusia yang condong kepada nilai-nilai kebenaran dan kebijakan agar ia dapat memfungsikan dirinya sebagai hamba Allah (QS. As-Syams: 8; QS. Adz-Dzariyat: 56). Oleh karena itu, pendidikan Islam berarti suatu proses membina seluruh potensi manusia sebagai makhluk yang beriman dan bertakwa, berfikir dan berkarya, untuk kemaslahatan diri dan lingkungan.[1]

Ajaran Islam mewajibkan umat pemeluknya supaya sanggup menjadi umat yang terpelajar, dimana jumlah orang yang berpendidikan harus semakin meningkat, sedangkan jumlah orang yang berpendidikan akan terus berkurang, dan akhirnya lenyap. (Ghazali, 1995: 407). Pendidikan Islam pada hakekatnya adalah usaha untuk mengarahkan, membimbing, semua aspek (potensi) yang ada pada manusia secara optimal.

Millenial merupakan sebutan untuk sebuah masa yang terjadi setelah era global, atau era modern. Era ini muncul sebagai respon terhadap era modern yang lebih mengutamakan akal, empirik, dan hal-hal yang bersifat materialistik, sekularistik, fragmatik, dan traksaksional. Yaitu pandangan yang memisahkan urusan dunia dengan urusan akhirat. Akibat dari kehidupan yang demikian itu, manusia menjadi bebas berbuat tanpa landasan spiritual, moral dan agama. Untuk itu, fungsi dari pendidikan Islam disini adalah untuk membentuk kepribadian dan menanamkan akhlak yang mulia didalam jiwa manusia. Jika di aplikasikan dalam kurikulum pendidikan Islam, maka kurikulum berfungsi sebagai pedoman yang digunakan oleh pendidik untuk membimbing peserta didiknya kearah tujuan tertinggi pendidikan Islam, melalui akumulasi sejumlah pengetahuan, keterampilan, dan sikap.

Pendidikan Islam sebagai sebuah sistem Pendidikan, tidak dipungkiri memiliki kontribusi yang cukup mapan untuk menyokong pembentukan karakter peserta didik dengan berbagai strategi dan metode yang cukup mengesankan dan menyakinkan. Seperti terlihat pada sistem pengajaran pada pendidikan Islam yang diarahkan bukan hanya pencapaian peningkatan kecerdasan (akal) semata bagi peserta didik namun yang lebih esensial dalam pendidikan Islam justru diharapkan melahirkan Insan yang paripurna (memiliki keimanan dan akhlak mulia).[2]

Selanjutnya terkait dengan permasalahan dan tantangan yang terjadi di era millennial antara lain terkait dengan adanya sikap dan perilaku manusia yang ciri-cirinya antara lain: (1) suka dengan kebebasan; (2) senang melakukan personalisasi; (3) mengandalkan kecepatan informasi yang instant (siap saji); (4) suka belajar; (5) bekerja dengan lingkungan inovatif, (6) aktif berkolaborasi, dan (7) hyper technology (Tapscott, 2008) (8) critivcal, yakni terbiasa berfikir out of the box, kaya ide dan gagasan; (9) confidence, yakni mereka sangat percaya diri dan berani mengungkapkan pendapat tanpa ragu-ragu; (10) connected, yakni merupakan generasi yang pandai bersosialisasi, terutama dalam komunitas yang mereka ikuti; (11) berselancar di sosial media dan internet (Farouk, 2017, 7). (12) sebagai akibat dari ketergantungan yang tinggi terhadap internet dan media sosial, mereka menjadi pribadi yang malas, tidak mendalam, tidak membumi, atau tidak bersosialisasi; (13) cenderung lemah dalam nilai-nilai kebersamaan, kegotongroyongan, kehangatan lingkungan dan kepedulian sosial; (14) cenderung bebas, kebarat-baratan dan tidak memperhatikan etik dan aturan formal, adat istiadat, serta tata krama. Dari empat belas sikap yang ditimbulkan di era millennialitu, nampaknya hanya butir 12, 13 dan 14 yang menyangkut dengan etos kerja, etika dan moral, yakni malas, tidak mendalam, tidak membumi, kurang peduli pada lingkungan, cenderung bebas, kebarat-baratan, dan melanggar etika. Semua masalah etika dan moral inilah yang menjadi tanggung jawab pendidikan Islam.[3]

Terdapat sejumlah potensi yang dimiliki pendidikan Islam dalam menghadapi tantangan di era millennial. Diantaranya yaitu, (1) sifat dan karakteristik pendidikan Islam, ajaran Islam selain mendasarkan ajaranya pada ajaran Tuhan yang terdapat di dalam al-Qur;an, dan ajaran Nabi Muhammad SAW yang terdapat di dalam hadisnya, juga berdasarkan pendapat akal pikiran yang sehat yang tidak bertentangan dengan ajaran al-Qur’an dan al-Hadis. Dengan demikian, hal-hal baru yang dihasilkan era millennial yang sejalan dengan ajaran Islam dapat diterima. Sikap yang dinamis, inovatif, kreatif, dan berani keluar dari kebiasaan lama yang muncul di era millennial misalnya dapat diterima oleh ajaran Islam. (2) Perhatian pendidikan Islam terhadap perbaikan karakter, Ajaran akhlak Islam tidak hanya terkait hubungan dengan Tuhan, melainkan hubungan dengan manusia yang hidup dalam zaman yang berubah-ubah. Yaitu akhlak yang berkaitan dengan kehidupan sosial, ekonomi, politik, budaya, pendidikan, dan lain sebagainya. Sikap-sikap yang ditunjukkan generasi millennial sebagaimaa tersebut di atas, yakni: Suka dengan kebebasan, senang melakukan personalisasi, mengandalkan kecepatan informasi yang instant, suka belajar, bekerja dengan lingkungan inovatif, aktif berkolaborasi, terbiasa berfikir out of the box, serba instant, mengandalkan pada kemudahan IT, ketergantungan yang tinggi pada internet dan media sosial, menjadi pribadi yang malas, tidak mendalam, tidak membumi, cenderung lemah dalam nilai-nilai kebersamaan, kegiatan gotong royong, kehangatan lingkungan dan kepedulian sosial, cenderung ke-Barat-baratan, tidak memperhatikan etika dan aturan formal, adat istiadat serta tata karma. Dalam hubungan ini, maka tugas pendidikan Islam adalah mencegah masuknya pengaruh nilai-nilai dan sikap-sikap yang negative ke dalam diri peserta didik dan mengarahkan sikap yang bisa negative dan positif yang ditimbulkan era millennial tersebut; serta menguatkan nilai-nilai yang positif. (3) Karakter Integralistik yang terdapat dalam pendidikan Islam dapat pula dijadikan alternative dalam menyiapkan manusia yang siap menghadapi era millennial. Integralisme dapat digunakan sebagai filsafat yang menjembatani kebenaran-kebenaran diniyaha yang tercantum dalam Kitab Suci Qur’an dengan kebenaran-kebenaraan ilmiah yang terbaca dalam Kitab Besar Alam semesta seperti halnya filsafat tradisional Islam di zaman dahulu. Dengan integralisme ini akan memunculkan ilham-ilham Ilmiah di dalam pikiran para ilmuwan Muslim sehingga mereka mampu menggali kandangan-kandungan makna dalam al-Qur’anul Karim untuk kemudian dikembangkan sebagai penemuan-penemuan ilmiah baru. (4) Pendidikan Islam dalam menyiapkan generasi unggul dan keteladanan Rasulullah SAW, Generasi millenialadalah generasi yang harus mampu bersaing dan dalam persaingan dan harus keluar sebagai pemenang. Untuk itu, generasi millenneial adalah generasi yang unggul baik dari aspek hard skill, maupun soft skill (moral, mental, intellektual, emosional dan spiritual). Pendidikan Islam dengan rujukan utamanya al-Qur’an dan al-Sunnah sesungguhnya memiliki komitmen pada keunggulan. Islam mengajarkan agar manusia memiliki sifat-sifat Allah dan Rasul-Nya. Yakni berakhlak dengan akhlak Tuhan dan Rasul sesuai kadar kesanggupan manusia (al-takhalluq bi akhlaq Allah wa al-Rasul ‘ala thaawa al-basyariah).  Karena Allah dan Rasul-Nya bersifat Unggul dan Maha Sempurna, maka pernyataan tersebut mengandung isyarat bahwa dalam melaksanakan pendidikan harus meniru keunggulan dan kesempurnaan sifat-sifat dan perbuatan Tuhan.

Ajaran agama Islam mewajibkan umat pemeluknya supaya sanggup menjadi umat yang terpelajar, di mana jumlah orang yang berpendidikan harus semakin meningkat, sedangkan jumlah orang yang tidak berpendidikan akan terus berkurang dan akhirnya lenyap. Pendidikan adalah proses mempersiapkan masa depan anak didik dalam mencapai tujuan hidup secara efektif dan efisien. Pendidikan Islam membimbing anak didik dalam perkembangan dirinya, baik jasmani maupun rohani menuju terbentuknya kepribadian yang utama pada anak

didik nantinya yang didasarkan pada hukum-hukum Islam. Baik secara normative, filosofis dan historis, pendidikan Islam harus siap menghadapi era millennial. Yakni dengan cara menyiapkan sumber daya manusia yang dibutuhkan di era millennial, dan sekaligus dapat mengatasi berbagai problema kehidupan yang timbul di era tersebut.[4]

Shoimatun Niswah (1710110332)


[1] Nur Latifah, “Pendidikan Islam di Era Globalisasi,” JIE (Journal of Islamic Education) 2, no. 1 (2015): 56.

[2] Sairul Basri, “Konsep Pendidikan Islam Dalam Membentuk Karkter Bangsa Di Era Globalisasi,” An Nur Journal 5, no. 2 (2017): 236.

[3] Andi Hidayat, “Metode Pendidikan Islam untuk Generasi Millennial,” FENOMENA 10, no. 1 (2018): 56.

[4] Dwi Runjani Juwita, “Pendidikan Akhlak Anak Usia Dini di Era Milenial,” At-Tajdid: Jurnal Ilmu Tarbiyah 7, no. 2 (2018): 87.

Pos blog pertama

Ini adalah pos pertama Anda. Klik tautan Sunting untuk mengubah atau menghapusnya, atau mulai pos baru. Jika ingin, Anda dapat menggunakan pos ini untuk menjelaskan kepada pembaca mengenai alasan Anda memulai blog ini dan rencana Anda dengan blog ini. Jika Anda membutuhkan bantuan, bertanyalah kepada orang-orang yang ramah di forum dukungan.